Senin, 18 Desember 2017

catatan hati ikhwan



Catatan hati seorang ikhwan

Aku memberanikan diri menulis ini,menuliskan batapa remuknya hati ,kepedihan demi kepedihan,resah gunda maupun pupus harapanku .harapan yang tadinya membuat aku semakin yakin akan cita-cita dan impian kini mulai pelan meredup seperti lampu yang tengah kehabisan minya ,anganku membayang tak tentu arah ,dilemah dan gelisah apakah aku akan menjadi sperti apa yang aku bayangkan dan impikan ? semua terkumpul menjadi satu bayangan semu dan tak mau pergi dari dalam pikiranku.aku membayangkan dicampur keresahan demi keresahan membayangkan hidupku yang mulai tak pasti akan kebenaran dan cahaya massa depan ,masa depan yang sebelumnya telah kubangun kokoh sedemikian hebat ,dikamarku telah terterah dengan jelas akan semua pengaharapan itu ,namun lagi-lagi aku seolah tertidur dan mengubur mimpi itu ,kenapa dengan diriku ,?
Yang kulakukan tak lebih sebatas menghayal dan menghayal menunggu malam,setelah malam kunanti pula pagi ,setelah pagi tiba aku seolah tak tahu harus berbuat apa dan mau kemana ,hidup dirundung hampa tak menentu……
Tak terasa denyut nadi semakin mengencang bak memukul persendian ini ,menyuaratkan diriki yang masih sajah terus diam tak melangkah.
Mulailah aku melangkah ,satu langkah dua langkah tak lama mundur dan kembali kelangkah pertama ,aku bingun setan apakah yang merasuk jiwaku ini sehingga aku seperti berada dalam kungkuhan orang yang tak berguna dan tak bias member manfaat minimal pada diriku sendiri.
Langkah demi langkah akupn terus mengayunkan kaki dan berjalan kedepan ,terlintas dibenakku akan masa lalu yang telah aku lihat dan hidupa disana aku tetap berjalan kedepan bahkan tak tahu apakah aku masih melihat apa tidak ,mataku telah memterbutahkan oleh hatiku yang remuk dan terhanyut ini.terlitas dibenak satu persatu siapa dia ,kulihat diriku saat berada dipersimpangan masa lalu ,hanya ada semangat dan semangat tergores disana tak kenal kata menyerah dan putus asa seorang anak yang memiliki garis keturunan tanpa pernah meilihat ayahnya ketika masa kecilnya hidup seperti anak biasanya ,anak kampung .hidup kanak-kanak yang ada hanya bahagia dan selalu menyenangkan tak ada sedih dan duka yang ada hanya tangis ketika meminta makan pad aibunya ,masa kecil dilalui dengan begitu kompleks dimana kaki dipijak disitu langit dijunjung ,kehidupan ibu pun tak ubahnya seorang yang sering kekurangan dan sesederhana ,setiap hari harus bekerja demi sesuap makan dihari itu besok dan lusa ,untunglah ibu cakap dalam membuat kue kamipun ikut menjual dan menjajakannya ditengah kampung entah beranta ,dari situ kuresapi dan kuhayati dengan sepenuh hati bahwa hidup dirundung serba keketrbatasan dan kekurangan membuat saya semakin dewasa menyikapi hidup ,disetiap kali melihat anak-anak lain semestinya kamipun seperti itu ikut bermain dan bukanya kenjajal jualan ,pengen rasanya seperti mereka ,namun hal itu hanyalah sebatas angan dan nostalgia sajah,akupun berlalu  hingga akhirnya aku semakin dewasa melihat kedepan dan merasapi terus menerus .
Kehidupan serasah susah justeru mengajarkanku agar menjadi orang yang pekah dan hati yang mudah tersentuh ,karena serbah kekurangan inilah yang menjadi pencuci hati kami sehingga tak mau menjadi seperti kebanyakan orang yang hidupnya terlihat mewah ,mungkin itulah takdir

Tidak ada komentar:

Posting Komentar