Catatan hati seorang ikhwan
Aku memberanikan diri menulis
ini,menuliskan batapa remuknya hati ,kepedihan demi kepedihan,resah gunda
maupun pupus harapanku .harapan yang tadinya membuat aku semakin yakin akan
cita-cita dan impian kini mulai pelan meredup seperti lampu yang tengah
kehabisan minya ,anganku membayang tak tentu arah ,dilemah dan gelisah apakah
aku akan menjadi sperti apa yang aku bayangkan dan impikan ? semua terkumpul
menjadi satu bayangan semu dan tak mau pergi dari dalam pikiranku.aku
membayangkan dicampur keresahan demi keresahan membayangkan hidupku yang mulai
tak pasti akan kebenaran dan cahaya massa depan ,masa depan yang sebelumnya
telah kubangun kokoh sedemikian hebat ,dikamarku telah terterah dengan jelas
akan semua pengaharapan itu ,namun lagi-lagi aku seolah tertidur dan mengubur
mimpi itu ,kenapa dengan diriku ,?
Yang kulakukan tak lebih sebatas
menghayal dan menghayal menunggu malam,setelah malam kunanti pula pagi ,setelah
pagi tiba aku seolah tak tahu harus berbuat apa dan mau kemana ,hidup dirundung
hampa tak menentu……
Tak terasa denyut nadi semakin
mengencang bak memukul persendian ini ,menyuaratkan diriki yang masih sajah
terus diam tak melangkah.
Mulailah aku melangkah ,satu
langkah dua langkah tak lama mundur dan kembali kelangkah pertama ,aku bingun
setan apakah yang merasuk jiwaku ini sehingga aku seperti berada dalam
kungkuhan orang yang tak berguna dan tak bias member manfaat minimal pada
diriku sendiri.
Langkah demi langkah akupn terus
mengayunkan kaki dan berjalan kedepan ,terlintas dibenakku akan masa lalu yang
telah aku lihat dan hidupa disana aku tetap berjalan kedepan bahkan tak tahu
apakah aku masih melihat apa tidak ,mataku telah memterbutahkan oleh hatiku
yang remuk dan terhanyut ini.terlitas dibenak satu persatu siapa dia ,kulihat
diriku saat berada dipersimpangan masa lalu ,hanya ada semangat dan semangat
tergores disana tak kenal kata menyerah dan putus asa seorang anak yang
memiliki garis keturunan tanpa pernah meilihat ayahnya ketika masa kecilnya
hidup seperti anak biasanya ,anak kampung .hidup kanak-kanak yang ada hanya
bahagia dan selalu menyenangkan tak ada sedih dan duka yang ada hanya tangis
ketika meminta makan pad aibunya ,masa kecil dilalui dengan begitu kompleks
dimana kaki dipijak disitu langit dijunjung ,kehidupan ibu pun tak ubahnya
seorang yang sering kekurangan dan sesederhana ,setiap hari harus bekerja demi
sesuap makan dihari itu besok dan lusa ,untunglah ibu cakap dalam membuat kue
kamipun ikut menjual dan menjajakannya ditengah kampung entah beranta ,dari
situ kuresapi dan kuhayati dengan sepenuh hati bahwa hidup dirundung serba
keketrbatasan dan kekurangan membuat saya semakin dewasa menyikapi hidup
,disetiap kali melihat anak-anak lain semestinya kamipun seperti itu ikut
bermain dan bukanya kenjajal jualan ,pengen rasanya seperti mereka ,namun hal
itu hanyalah sebatas angan dan nostalgia sajah,akupun berlalu hingga akhirnya aku semakin dewasa melihat
kedepan dan merasapi terus menerus .
Kehidupan serasah susah justeru
mengajarkanku agar menjadi orang yang pekah dan hati yang mudah tersentuh
,karena serbah kekurangan inilah yang menjadi pencuci hati kami sehingga tak
mau menjadi seperti kebanyakan orang yang hidupnya terlihat mewah ,mungkin
itulah takdir

Tidak ada komentar:
Posting Komentar